You need to enable javaScript to run this app.

Isra Mi’raj: Saat Allah Menghibur Kekasih-Nya yang Sedang Patah

  • Jum'at, 16 Januari 2026
  • Admin
  • 0 komentar
Isra Mi’raj: Saat Allah Menghibur Kekasih-Nya yang Sedang Patah

Kita sering memandang Isra Mi’raj sebagai sebuah perjalanan kosmik yang megah. Namun, jarang kita selami bahwa perjalanan ini adalah sebuah "Operasi Penyembuhan Hati" bagi seorang manusia paling mulia yang sedang berada di titik nadir penderitaannya.

Am Al-Huzn: Runtuhnya Langit di Dalam Rumah

Tahun ke-10 kenabian bukan sekadar angka, tapi luka. Bayangkan perasaan Nabi saat harus melepas Khadijah binti Khuwailid. Dialah wanita yang menyelimuti Nabi saat ketakutan di Gua Hira, yang menghabiskan seluruh kekayaannya hingga tak tersisa demi dakwah.

Belum kering air mata itu, sang paman, Abu Thalib, menyusul wafat. Di Mekkah, hukum yang berlaku adalah kesukuan. Tanpa Abu Thalib, Nabi kehilangan perlindungan hukum. Beliau tidak lagi memiliki "benteng" dari hinaan fisik dan ancaman pembunuhan kaum Quraisy. Dalam sekejap, Nabi menjadi orang yang paling rentan di tanah kelahirannya sendiri. Nabi seolah kehilangan "sayap" pelindung di dunia. Beliau menjadi yatim piatu untuk kesekian kalinya dalam kesendirian yang mencekam.

Syi’ab Abi Thalib: Tiga Tahun dalam Cengkeraman Lapar

Jauh sebelum itu, penderitaan fisik sudah luar biasa. Selama tiga tahun, Nabi dan pengikutnya dikucilkan di Lembah Abi Thalib, sebuah celah bukit sempit (Syi’ab).

Tidak ada makanan yang boleh masuk. Sejarah mencatat bahwa saking laparnya, para sahabat harus merebus kulit unta yang sudah kering dan keras untuk sekadar bisa dikunyah.

Tangisan bayi yang kelaparan terdengar dari balik bukit, sengaja dibiarkan oleh kaum Quraisy agar mental kaum Muslimin runtuh. Di sinilah Nabi melihat para sahabatnya menderita, sebuah beban mental yang jauh lebih berat daripada rasa lapar yang beliau alami sendiri. Di sana, Nabi pun harus mengikatkan batu ke perutnya untuk sekadar menahan perihnya rasa lapar.

Tragedi Ta’if: Luka di Atas Luka

Saat Mekkah terasa mencekik, Nabi mencoba mencari perlindungan ke kota Ta’if. Beliau berharap ada setitik harapan dan sambutan hangat. Dengan harapan yang tersisa, Nabi berjalan kaki sejauh 60 kilometer menuju Ta’if. Beliau tidak berkendara unta, tapi berjalan mendaki gunung untuk mencari suaka. Namun, ia tidak hanya diusir dengan kata-kata.

Barisan Kebencian: Para pemuka Ta’if mengorganisir massa di kedua sisi jalan. Mereka melempari kaki Nabi dengan batu hingga darah mengalir deras. Tubuh mulia itu berdarah-darah, hingga darahnya membeku di dalam terompah (sandal) beliau.

Zaid bin Haritsah, sahabat setianya, berusaha melindungi kepala Nabi dengan tubuhnya sendiri hingga kepalanya pun penuh luka.

Saat Nabi beristirahat di bawah pohon anggur milik Utbah dan Syaibah, beliau tidak meminta kehancuran bagi penduduk Ta'if. Beliau justru berdoa dengan suara bergetar, "Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli pada semua ini. Namun, afiat-Mu (perlindungan-Mu) jauh lebih luas bagiku."

Geopolitik yang Runtuh: Palestina dalam Kegelapan

Dunia saat itu juga sedang tidak baik-baik saja. Yerusalem (Baitul Maqdis), yang menjadi kiblat pertama umat Islam, sedang dalam kondisi hancur lebur setelah ditaklukkan oleh Kaisar Khosrau II dari Persia. Gereja Makam Kudus dibakar, dan kota suci itu penuh dengan pertumpahan darah. Nabi merasakan kesedihan ganda: kesedihan personal di Mekkah dan kesedihan spiritual melihat rumah suci para Nabi sebelumnya di Palestina sedang dijajah.

Mi’raj: Pelukan Langit dan Hadiah Shalat

Isra Mi’raj adalah jawaban Allah atas semua air mata itu. Saat pintu bumi seolah tertutup rapat, Allah mengundang Nabi naik ke Sidratul Muntaha. Allah ingin menunjukkan bahwa meski penduduk bumi menolaknya, seluruh penghuni langit menyambutnya dengan rindu.

Oleh-oleh dari perjalanan ini adalah Shalat. Mengapa shalat? Karena Allah ingin setiap kali kita merasa hancur, sendirian, atau merasa dunia tidak adil, kita punya cara untuk "Mi'raj" (naik) menemui-Nya melalui sujud. Shalat adalah cara Tuhan memeluk hamba-Nya yang sedang terluka untuk sejenak bersandar di hadapan Sang Pencipta.

Jika hari ini beban hidupmu terasa tak tertahankan, ingatlah bahwa setelah malam yang paling gelap, akan ada fajar yang paling terang. Kesedihanmu mungkin adalah cara Allah mengundangmu untuk lebih dekat dengan-Nya.


Daftar Referensi:

  1. Syeikh Safiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiqul Makhtum (The Sealed Nectar): Merinci detil kronologis tahun kesedihan dan pengepungan di Syi’ab Abi Thalib.

  2. Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah: Sumber utama tentang dialog Nabi di bawah pohon anggur di Ta’if dan jenis-jenis siksaan yang dialami sahabat.

  3. Imam Muslim, Shahih Muslim (Kitab al-Jihad wa al-Siyar): Mencatat hadis tentang dialog Nabi dengan Malaikat Penjaga Gunung yang menawarkan untuk menghimpit penduduk Ta'if dengan gunung.

  4. Dr. Tariq Ramadan, In the Footsteps of the Prophet: Memberikan perspektif eksistensial dan emosional mengenai makna penderitaan Nabi sebelum Isra Mi'raj.

  5. Sejarah Perang Romawi-Persia (602–628 M): Referensi sejarah umum (seperti karya Walter Kaegi) yang memvalidasi kondisi Yerusalem saat peristiwa Isra Mi'raj terjadi.

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

AHMAD MUFTI, S.P.

- Kepala Sekolah -

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita senantiasa diberi kesempatan...

Berlangganan
Banner